Artikel-artikel di dalam rubrik ini membahas konsepsi dasar dalam Islam,
seperti tauhid dan dakwah, dengan dikupas secara filosofis dan transformatif.
Rubrik ini juga mengungkap berbagai tantangan realitas kontemporer, seperti
globalisasi kapitalisme yang merasuki setiap lini kehidupan Muslim. Untuk
menyikapi fenomena yang kian mengancam ini, pencarian metode dakwah alternatif
perlu terus menerus dilakukan dengan tetap memegang nilai-nilai dasar
Islam di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Klik di sini untuk membaca ijin pemuatan artikel tulisan M. Amien Rais.
- Arti
dan Fungsi Tauhid
M. Amien Rais
La ilaha
illa Allah meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.
Jadi, sesungguhnya kalimat thayyibah merupakan kalimat pembebasan bagi
manusia. Seorang manusia-tauhid mengemban tugas untuk melaksanakan tahrirun
nas min 'ibadatil 'ibad ila ‘ibadatillah (membebaskan manusia
dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata). Dengan
tauhid, manusia tidak saja akan bebas dan merdeka, tetapi juga akan
sadar bahwa kedudukannya sama dengan manusia mana pun. Tidak ada manusia
yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya. Setiap manusia
adalah hamba Allah yang berstatus sama. Jika tidak ada manusia yang
lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah,
maka juga tidak ada kolektivitas manusia, baik sebagai suatu suku bangsa
ataupun suatu bangsa, yang lebih tinggi atau lebih rendah dari¬pada
suku bangsa atau bangsa lainnya. Semuanya berkedudukan sama di hadapan
Allah. Yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah tingkat ketakwaan
pada Allah SWT.
- Arti
Dakwah
M. Amien Rais
Dakwah
Islam adalah setiap usaha rekonstruksi masyarakat yang masih mengandung
unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang Islami. Oleh karena
itu, dakwah juga berarti Islamisasi seluruh kehidupan manusia. Menurut
Muhammad Naquib al-Attas, Islamisasi adalah proses pembebasan manusia,
pertama-tama dari segenap tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis
dan budaya nasional yang irasional. Kemudian berarti juga pembebasan
manusia dari pengaruh sekular yang membelenggu pikiran dan perilakunya
- Karakteristik
Dakwah Ilallah
Riliani Abdurrahman
Menyeru
kepada Allah bukanlah tujuan agar manusia tertarik terhadap suatu kelompok,
golongan atau partai sehingga mereka lebih merasa dekat kepada organisasi-organisasi
tersebut daripada kepada Allah. Dakwah Ilallah adalah menyeru manusia
agar hidupnya berada di rel Islam dan hanya untuk meraih keridhaan Allah
semata.
Dakwah Ilallah
bukan pulalah menyeru manusia untuk mengabdi kepada kepentingan pribadi
sang da'i. Dakwah bisa tergelincir dari jalan Allah menuju kepentingan
pribadi manakala dalam diri sang da’i tumbuh keinginan untuk meraih
popularitas atau ambisi menjadi figur masyarakat.
- Dakwah
yang Peka Realitas
Bachtiar Dwi Kurniawan
Berdakwah
yang kurang merespon realitas bisa menyebabkan kegagalan misi dakwah.
Dakwah terkesan satu arah dan seolah-olah masalah akan dapat diatasi
oleh sang juru dakwah. Oleh karena itu, dakwah yang dilakukan seharusnya
tidaklah anti realitas seperti yang masih berlangsung sekarang ini.
Diperlukan sebuah recovery dalam berdakwah. Untuk itu harus ada modifikasi
metode dakwah dengan melakukan strategi dakwah yang mantap dengan memahami
dan menyelami kondisi masyarakat yang sebenarnya
......, tidak
semua penyelesaian bisa dilakukan seperti pendekatan Aa’ Gym atau
Arifin Ilham. Saat ini problem umat kian kompleks. Mereka tidak hanya
dihadapkan pada realitas kehidupan seperti yang telah mampu dijawab
Aa’ Gym atau Arifin Ilham. Masih ada permasalahan yang berkaitan
dengan kemiskinan, kebodohan, penindasan, penggusuran, peperangan dan
pemurtadan. Cukupkah kemiskinan, kebodohan, penindasan, pemurtadan akan
selesai hanya dengan diberi tausyiah oleh sang ustadz atau hanya dengan
dzikir bersama?
- Globalisasi
dan Tantangan Dakwah
Yunahar Ilyas
Pertanyaan
yang relevan dan mendesak sekarang ini adalah bukan "dapatkah umat
Islam memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dakwah" tapi "dapatkah
umat Islam bertahan menghadapi serangan globalisasi". Apakah umat
Islam akan tenggelam atau masih mampu menggapai-gapai untuk sekedar
tidak tenggelam atau memperlambat kehancurannya?
........metode
dakwah harus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dakwah tidak hanya terbatas menggunakan media tradisional (mimbar) tapi
juga menggunakan multimedia. Begitu juga jaringan dakwah harus diperkuat;
kerja sama antar lembaga dakwah dunia harus ditingkatkan. Perbedaan-perbedaan
aliran, mazhab atau pendekatan dakwah harus disikapi secara bijak. Lakukanlah
kerja sama dalam hal-hal yang disepakati, bertoleransilah dalam hal-hal
yang berbeda pendapat!
- Islam:
Ideologi yang Mencerahkan dan Membebaskan
Eko Supriyadi
Islam,
dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk
membebaskan masyarakat di negeri mana pun yang tertindas, baik secara
kultural maupun politik. Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya—yang
belum terkontaminasi oleh nilai-nilai di luar dirinya—merupakan
ideologi revolusioner ke arah pembebasan dari hegemoni politik, ekonomi,
dan kultural yang bukan Islam.
Raushan fikr
adalah model manusia yang diidealkan oleh Ali Syari'ati untuk memimpin
masyarakat menuju revolusi. Raushan fikr adalah pemikir tercerahkan
yang mengikuti ideologi yang dipilihnya secara sadar. Ideologi akan
membimbingnya kepada pewujudan tujuan ideologi tersebut, ia akan memimpin
gerakan progresif dalam sejarah dan menyadarkan umat terhadap kenyataan
kehidupan. Ia akan memprakarsai gerakan revolusioner untuk merombak
stagnasi. Sebagaimana rasul-rasul selalu muncul untuk mengubah sejarah
dan menciptakan sejarah baru. Memulai gerakan dan menciptakan revolusi
sistemik.
- Mendamba
Islam sebagai Gerakan Sosial Baru
Eko Prasetyo
........gerakan
sosial menjadi tuntutan bagi semua kekuatan Islam, sebuah gerakan sosial
yang akan memberikan bekal pemahaman baru terhadap realitas. Dengan
mengaitkan pada gerakan sosial, umat Islam belajar untuk menata hubungan
tidak melalui relasi patron melainkan hubungan organisasional. Dan dalam
mencapai sejumlah tujuan maka aksi-aksi politik yang rasionallah yang
dikerjakan sehingga segala bentuk strategi ditempuh. Dengan menempuh
jalan gerakan sosial maka upaya mobilisasi tidak lagi mengandalkan karisma
melainkan dengan menjaring konstituen melalui antitesis atas nilai-nilai
yang ditentang. Karenanya, gerakan sosial Islam menemukan sumbernya
pada prinsip Tauhid. Tauhid yang maknanya adalah pengukuhan serta peniadaan
hanya dapat dijalani jika umat Islam memiliki kesadaran kritis dan budaya
perlawanan.
Tentu untuk membangkitkan kesadaran atas kebutuhan intelektual organik
dibutuhkan model pendidikan keagamaan yang partisipatif dan kritis.
Konservatisme di lingkungan pendidikan Islam harus ditumbangkan. Bersamaan
dengan itu makin diperkuatnya elemen kesadaran akan budaya perlawanan.
Lembaga pendidikan Islam 'mutlak' mengembangkan tradisi kebudayaan,
yang mampu, membuka selubung kesadaran akan kekejaman kapitalisme global.
|