Artikel-artikel di dalam rubrik ini membahas konsepsi dasar dalam Islam, seperti tauhid dan dakwah, dengan dikupas secara filosofis dan transformatif. Rubrik ini juga mengungkap berbagai tantangan realitas kontemporer, seperti globalisasi kapitalisme yang merasuki setiap lini kehidupan Muslim. Untuk menyikapi fenomena yang kian mengancam ini, pencarian metode dakwah alternatif perlu terus menerus dilakukan dengan tetap memegang nilai-nilai dasar Islam di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Klik di sini untuk membaca ijin pemuatan artikel tulisan M. Amien Rais.

  1. Arti dan Fungsi Tauhid
    M. Amien Rais

    La ilaha illa Allah meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan. Jadi, sesungguhnya kalimat thayyibah merupakan kalimat pembebasan bagi manusia. Seorang manusia-tauhid mengemban tugas untuk melaksanakan tahrirun nas min 'ibadatil 'ibad ila ‘ibadatillah (membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata). Dengan tauhid, manusia tidak saja akan bebas dan merdeka, tetapi juga akan sadar bahwa kedudukannya sama dengan manusia mana pun. Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya. Setiap manusia adalah hamba Allah yang berstatus sama. Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah, maka juga tidak ada kolektivitas manusia, baik sebagai suatu suku bangsa ataupun suatu bangsa, yang lebih tinggi atau lebih rendah dari¬pada suku bangsa atau bangsa lainnya. Semuanya berkedudukan sama di hadapan Allah. Yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah tingkat ketakwaan pada Allah SWT.

  2. Arti Dakwah
    M. Amien Rais

    Dakwah Islam adalah setiap usaha rekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang Islami. Oleh karena itu, dakwah juga berarti Islamisasi seluruh kehidupan manusia. Menurut Muhammad Naquib al-Attas, Islamisasi adalah proses pembebasan manusia, pertama-tama dari segenap tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis dan budaya nasional yang irasional. Kemudian berarti juga pembebasan manusia dari pengaruh sekular yang membelenggu pikiran dan perilakunya

  3. Karakteristik Dakwah Ilallah
    Riliani Abdurrahman

    Menyeru kepada Allah bukanlah tujuan agar manusia tertarik terhadap suatu kelompok, golongan atau partai sehingga mereka lebih merasa dekat kepada organisasi-organisasi tersebut daripada kepada Allah. Dakwah Ilallah adalah menyeru manusia agar hidupnya berada di rel Islam dan hanya untuk meraih keridhaan Allah semata.

    Dakwah Ilallah bukan pulalah menyeru manusia untuk mengabdi kepada kepentingan pribadi sang da'i. Dakwah bisa tergelincir dari jalan Allah menuju kepentingan pribadi manakala dalam diri sang da’i tumbuh keinginan untuk meraih popularitas atau ambisi menjadi figur masyarakat.


  4. Dakwah yang Peka Realitas
    Bachtiar Dwi Kurniawan

    Berdakwah yang kurang merespon realitas bisa menyebabkan kegagalan misi dakwah. Dakwah terkesan satu arah dan seolah-olah masalah akan dapat diatasi oleh sang juru dakwah. Oleh karena itu, dakwah yang dilakukan seharusnya tidaklah anti realitas seperti yang masih berlangsung sekarang ini. Diperlukan sebuah recovery dalam berdakwah. Untuk itu harus ada modifikasi metode dakwah dengan melakukan strategi dakwah yang mantap dengan memahami dan menyelami kondisi masyarakat yang sebenarnya

    ......, tidak semua penyelesaian bisa dilakukan seperti pendekatan Aa’ Gym atau Arifin Ilham. Saat ini problem umat kian kompleks. Mereka tidak hanya dihadapkan pada realitas kehidupan seperti yang telah mampu dijawab Aa’ Gym atau Arifin Ilham. Masih ada permasalahan yang berkaitan dengan kemiskinan, kebodohan, penindasan, penggusuran, peperangan dan pemurtadan. Cukupkah kemiskinan, kebodohan, penindasan, pemurtadan akan selesai hanya dengan diberi tausyiah oleh sang ustadz atau hanya dengan dzikir bersama?

  5. Globalisasi dan Tantangan Dakwah
    Yunahar Ilyas

    Pertanyaan yang relevan dan mendesak sekarang ini adalah bukan "dapatkah umat Islam memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dakwah" tapi "dapatkah umat Islam bertahan menghadapi serangan globalisasi". Apakah umat Islam akan tenggelam atau masih mampu menggapai-gapai untuk sekedar tidak tenggelam atau memperlambat kehancurannya?

    ........metode dakwah harus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dakwah tidak hanya terbatas menggunakan media tradisional (mimbar) tapi juga menggunakan multimedia. Begitu juga jaringan dakwah harus diperkuat; kerja sama antar lembaga dakwah dunia harus ditingkatkan. Perbedaan-perbedaan aliran, mazhab atau pendekatan dakwah harus disikapi secara bijak. Lakukanlah kerja sama dalam hal-hal yang disepakati, bertoleransilah dalam hal-hal yang berbeda pendapat!

  6. Islam: Ideologi yang Mencerahkan dan Membebaskan
    Eko Supriyadi

    Islam, dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan masyarakat di negeri mana pun yang tertindas, baik secara kultural maupun politik. Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya—yang belum terkontaminasi oleh nilai-nilai di luar dirinya—merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan dari hegemoni politik, ekonomi, dan kultural yang bukan Islam.

    Raushan fikr adalah model manusia yang diidealkan oleh Ali Syari'ati untuk memimpin masyarakat menuju revolusi. Raushan fikr adalah pemikir tercerahkan yang mengikuti ideologi yang dipilihnya secara sadar. Ideologi akan membimbingnya kepada pewujudan tujuan ideologi tersebut, ia akan memimpin gerakan progresif dalam sejarah dan menyadarkan umat terhadap kenyataan kehidupan. Ia akan memprakarsai gerakan revolusioner untuk merombak stagnasi. Sebagaimana rasul-rasul selalu muncul untuk mengubah sejarah dan menciptakan sejarah baru. Memulai gerakan dan menciptakan revolusi sistemik.

  7. Mendamba Islam sebagai Gerakan Sosial Baru
    Eko Prasetyo

    ........gerakan sosial menjadi tuntutan bagi semua kekuatan Islam, sebuah gerakan sosial yang akan memberikan bekal pemahaman baru terhadap realitas. Dengan mengaitkan pada gerakan sosial, umat Islam belajar untuk menata hubungan tidak melalui relasi patron melainkan hubungan organisasional. Dan dalam mencapai sejumlah tujuan maka aksi-aksi politik yang rasionallah yang dikerjakan sehingga segala bentuk strategi ditempuh. Dengan menempuh jalan gerakan sosial maka upaya mobilisasi tidak lagi mengandalkan karisma melainkan dengan menjaring konstituen melalui antitesis atas nilai-nilai yang ditentang. Karenanya, gerakan sosial Islam menemukan sumbernya pada prinsip Tauhid. Tauhid yang maknanya adalah pengukuhan serta peniadaan hanya dapat dijalani jika umat Islam memiliki kesadaran kritis dan budaya perlawanan.

    Tentu untuk membangkitkan kesadaran atas kebutuhan intelektual organik dibutuhkan model pendidikan keagamaan yang partisipatif dan kritis. Konservatisme di lingkungan pendidikan Islam harus ditumbangkan. Bersamaan dengan itu makin diperkuatnya elemen kesadaran akan budaya perlawanan. Lembaga pendidikan Islam 'mutlak' mengembangkan tradisi kebudayaan, yang mampu, membuka selubung kesadaran akan kekejaman kapitalisme global.