|
Rubrik ini dipersembahkan kepada Anda sebagai sarana untuk melihat kembali
ke dalam diri apa-apa saja yang telah, akan, dan harus kita lakukan dalam
kehidupan. Kadangkala, hal-hal yang sepertinya dirasa sepele bisa berubah
menjadi duri di dalam sepatu yang menganggu saat berjalan, dan bahkan
melukai jika tidak segera dicabut. Semoga sajian sederhana ini dapat mengingatkan
kembali makna keberadaan kita di alam semesta yang hanya sementara ini.
- Menjadi
Telaga atau Samudera
Adib Nurhadi
Dalam renungan
panjang dan pencarian yang tiada henti, tiba-tiba teringat kembali
sesuatu yang begitu berkesan mengenai sebuah tulisan yang judulnya
kira-kira sama. Ada yang perlu saya bagikan pada siapa pun. Karena
pada prinsipnya, kelegaan yang paling dalam adalah ketika kita mampu
berbagi sesuatu yang berkesan dengan tanpa jarak kesadaran akan hakikat
kebaikan. Yang barangkali, jika diterima mampu memberi manfaat, atau
paling tidak, kesadaran—yang terkadang bagi sebagian kita menjadi
begitu menutupi—lantaran bangunan-bangunan bertembok tebal begitu
kuat kita dirikan untuk mengurung dari segala sisi penemuan yang didapatkan
oleh orang lain. Bisa jadi ini penting, karena, laksana sebuah pohon
yang ditumbuhkan dalam ruang, dengan penjara pot bagi akar-akarnya
dan di bawah atap bagi daun-daunnya, akan berbeda jauh pertumbuhannya
dengan pohon yang dengan merdeka tumbuh di alam. Memungkinkan dirinya
dapat bersentuhan langsung dengan panas matahari, dalamnya bumi bagi
akar-akarnya, dan udara bebas bagi gerai daun-daunnya.
Tomorrow the bandages
will come off,
I wonder, will I see half an oven? Half an apple?
Half my mother's face with my one remaining eye?
I did not see the bullet
But felt its pain exploding in my head.
his image did not disintegrate.
The soldier with his big gun and steady hands.
And the look in his eyes I could not understand.I can see him so clearly
with my eyes closed,
|