Bagian Kesembilan:

LDK sebagai Komunitas Belajar (Learning Community)

Belajar adalah sebuah proses. Didalamnya ada ruang dimana kita merasa tidak tahu akan sesuatu, lalu kita menjadi tahu. Selanjutnya setelah kita mengetahui sesuatu, timbul pemikiran baru yang membuat kita menyimpulkan sesuatu yang baru. Itulah proses yang disebut thesis-antitesis dan sintesis-Maka dalam belajar tidak ada kata salah, justru yang salah adalah orang yang tidak mau belajar.

Untuk menjadi pembelajar sejati, seseorang mesti punya paradigma belajar. Paradigma itu berupa keinginan untuk menjadikan semua orang sebagai guru dan segala kejadian sebagai bahan pelajaran. Dengan bekal paradigma tersebut, maka kehidupan ini akan menjadi sebuah ruang kelas ‘raksasa’ tempat menuntut ilmu. Setiap kejadian yang kita alami menyimpan mutiara-muriara yang jika kita mampu menemukannya akan membuat kita menjadi ‘kaya’. Kekayaan itu berupa hikmah yang menjadi bahan bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri. Sehingga hari ini akan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Salah satu media pembelajaran adalah organisasi, tak terkecuali LDK. LDK seharusnya dapat menjadi wadah penggodokan bagi orang-orang didalamnya untuk belajar tentang kehidupan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari, mulai dari belajar tentang wawasan keislaman, manajemen organisasi, interaksi sosial, maupun belajar tentang nilai-nilai islam, komunikasi efektif, belajar menjadi amanah (bertanggungjawab), dll. Untuk mencapai hal itu, LDK harus mampu membangun kultur ‘belajar’ (Building Learning Culture/BLC). Dan dalam membangun kultur belajar, setidaknya ada dua hal yang terkait dengan proses tersebut, yaitu struktur dan kultur yang mendukung kearah itu.

Adanya struktur yang mendukung, antara lain ditunjukkan dengan struktur yang ‘terbuka’. Artinya struktur tersebut tidak terlalu hierarkis dan bersifat top down. Struktur yang tertutup bisa menghambat proses learning yang ingin diwujudkan, karena pola relasi yang terbentuk cenderung bersifat satu arah. Struktur juga harus bisa memfasilitasi setiap orang untuk menemukan dan mengembangkan ide-idenya sekaligus melakukan manajemen ide untuk menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.

Selain struktur, kultur learning baru bisa tumbuh, jika ada budaya yang mendukung, seperti budaya bertanya, budaya berpikir dan budaya berbagi (share). Kultur yang mendukung kearah BLC dapat ditumbuhkan dengan adanya ‘nilai bersama’ –yang disepakati dalam organisasi-. Misalnya kesepakatan untuk melakukan proses musyawarah dalam menyelesaikan masalah, kesepakatan untuk selalu mendiskusikan sesuatu sebelum pengambilan keputusan, dan kesepakatan untuk menyikapi konflik secara positif (manajemen konflik) merupakan sebagian contohnya.

kembali ke atas

kembali ke halaman In Focus