LDK: How Professional Can You Go?
(Sebuah Ulasan terhadap Perjalanan Lembaga Dakwah Kampus)
Bagian Pertama:
Pengantar
Dakwah adalah upaya mengajak manusia untuk kembali pada fitrahnya untuk berketuhanan. Fitrah berketuhanan tersebut telah diberikan Allah sejak manusia berada dalam alam ruh sebagaimana disebutkan dalam QS. 7: 172
-
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Dalam mengemban misi dakwah, manusia dapat memakai cara fardhiyah (individu) maupun jam’iyyah (bersama-sama)--maksudnya dakwah yang dikelola dalam sebuah lembaga dakwah. Dalam tulisan ini kita akan membahas bagaimana mengelola da’wah jam’iyyah secara profesional. Hal ini penting karena keberadaan lembaga da'wah tanpa diiringi dengan pengelolaan yang profesional takkan berarti banyak bagi umat. Lembaga da'wah yang seperti itu bukan saja akan menemui banyak kesulitan ketika berhadapan dengan kondisi riil masyarakat, namun akan terasa lebih ‘berat’ karena juga berhadapan dengan masalah-masalah ‘internal’. Ibaratnya, jangan berharap mampu memberi sesuatu kepada orang lain jika mengatur diri sendiri saja kita tidak mampu!
Ketika berbicara tentang profesionalisme, setiap institusi, bahkan setiap individu memiliki pandangan yang beragam. Namun begitu, profesionalisme tidak terlepas dari benang merah antara loyalitas, kerja keras, kejujuran dan cinta. Sebuah dedikasi tidak hanya dapat diukur dari hasil akhir, tetapi proses yang menyertainya merupakan nilai yang tidak terlepas dari keberhasilan sebuah organisasi.
Dalam membahas konsep profesionalisme, kami memakai beberapa parameter yang kami anggap cukup bisa mempresentasikan profesional tidaknya sebuah lembaga dakwah. Kami mencoba untuk tidak terjebak pada konsep-konsep organisasi yang secara formal dipakai sebagai acuan kaku untuk mengukur keprofesional-an sebuah lembaga. Artinya selain menetapkan pentingnya ada sistem yang menjamin berjalannya lembaga dakwah secara profesional, kami juga membidik sisi-sisi makna atau nilai-nilai yang idealnya tersirat dalam sebuah sistem. Sehingga ketika organisasi berjalan dengan lancar, tidak hanya karena ada aturan yang kaku namun lebih karena ada kesadaran untuk berproses bersama (melakukan pembinaan diri) dan melakukan kerja dakwah secara jama’I (bersama-sama).
kembali
ke atas
kembali ke halaman In Focus |