Mahluk apalagi
ekonomi-politik itu? Apa bedanya dengan ekonomi atau politik saja? Memang,
sering kali orang tanpa sadar melihat dimensi ekonomi dan politik terpisah
satu sama lain. Dalam kenyataannya, keduanya saling terkait erat. Tulisan-tulisan di rubrik ini mengupas mazhab (isme)
ekonomi yang tengah berkuasa saat ini, yakni kapitalisme beserta perangkat-perangkatnya.
Pada saat yang kurang-lebih sama, Islam pun dipertimbangkan sebagai alternatif
jalan selamat. Di dalam Islam tidak hanya ada dimensi teologi, tetapi
juga perangkat pengatur masyarakat yang komprehensif dan juga dengan semangat
pembebasan dan kemanusiaan. Benarkah demikian?
- Globalisasi:
Karakteristik dan Implikasi
Riza Noer Arfani
Globalisasi adalah
kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan masyarakat domestik/lokal
ke dalam komunitas global di berbagai bidang. Pertukaran barang dan
jasa, pertukaran dan perkembangan ide-ide mengenai demokratisasi, hak
asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, migrasi, dan berbagai fenomena
human trafficking yang melintas batas-batas lokalitas
dan nasional kini merupakan fenomena umum yang berlangsung hingga ke
tingkat komunitas paling lokal sekalipun. Pendek kata, komunitas domestik
atau lokal kini adalah bagian dari rantai perdagangan, pertukaran ide
dan perusahaan transnasional.
Yang perlu diperhatikan
adalah implikasi dari kecenderungan-kecenderungan itu. Kita perlu
memperhatikan munculnya global governance yang mengatur berbagai kecenderungan
tadi. Dalam bidang perdagangan, pemerintah nasional kita adalah anggota
dari WTO (World Trade Organization) yang terikat dengan aturan-aturan
yang diratifikasi di dalamnya.
- Kapitalisme
dan Neoliberalisme: Sebuah Tinjauan Singkat
Eko Prasetyo
Keberatan terbesar kalangan mahasiswa terhadap pemotongan subsidi ditengarai
karena kebijakan yang ada di balik itu didasarkan pada kepatuhan atas
ajaran yang tertuang dalam ideologi neo-liberalisme. Yang terpokok dari
ideologi neo-liberalisme adalah dikarantinanya peran sosial negara dan
menjadikan pasar bebas sebagai kiblat dari semua transaksi ekonomi.
Kedua kecenderungan ini membawa akibat serius bagi kehidupan mayoritas
rakyat yang masih berada dalam krisis. Segala kritik yang ditumpahkan
oleh sejumlah aktivis tidak mengurangi keyakinan penguasa untuk tetap
menerapkan ideologi neo-liberalisme dalam berbagai proyek pembangunan.
Kerasnya suara perlawanan di tingkat akar rumput ini telah memperluas
wacana ideologi neo-liberalisme pada semua komunitas masyarakat sipil.
Aksi penentangan yang tidak percuma mengingat saat ini, banyak kalangan
mulai kembali menelaah, apa sesungguhnya yang ada di balik ideologi
neo-liberalisme dan bagaimana kiprahnya.
-
Neoliberalisme dan Globalisasi
Mansour Fakih
Krisis terhadap
pembangunan yang terjadi saat ini pada dasamya merupakan bagian dari
krisis sejarah dominasi dan eksploitasi manusia atas manusia yang lain,
yang diperkirakan telah berusia lebih dari lima ratus tahun. Proses
sejarah dominasi itu pada dasamya dapat dibagi dalam tiga periode formasi
sosial. Fase pertama adalah periode 'kolonialisme,' yakni fase dimana
perkembangan kapitalisme di Eropa mengharuskan ekspansi secara fisik
untuk memastikan perolehan bahan baku mentah. Melalui fase kolonialisme
inilah proses dominasi manusia dengan segenap teori perubahan sosial
yang mendukungnya telah terjadi dalam bentuk penjajahan secara langsung
selama ratusan tahun.
- Islam
Sebagai Alternatif
Mansour Fakih
Ketika diturunkan
dalam konteks zamannya, Islam pada dasarnya merupakan gerakan spiritual,
moral, budaya, politik, serta sistem ekonomi alternatif. Tentu saja,
alternatif terhadap sistem dan budaya Arab yang waktu itu tengah mengalami
pembusukan dan proses dehumanisasi. Selain itu Islam juga lahir sebagai
jalan pembebasan dan kemanusiaan dari dua kekuatan global zamannya,
yakni kekuasaan Romawi di Barat dan Bizantium di Timur. Namun, semangat
alternatif lslam ini tak bertahan lama, seperti ditunjukkan dalam perjalanan
sejarah. la mengalami pasang-surut sampai akhirnya sulit mempertahankan
watak sebagai gerakan alternatif. Masyarakat Islam justru kini menjadi
pihak yang disoroti oleh setiap orang, saat membicarakan proses dehumanisasi,
ketidakadilan gender, pandangan intoleran, dan sebagainya. Islam tiba-tiba
kehilangan citra diri sebagai pewaris gerakan pembebasan dan penegak
keadilan, apalagi gerakan altematif terhadap sistem dan ideologi dehumanisasi
masa lalu.
|