Rubrik ini mengajak kita untuk senantiasa berefleksi diri dan menyegarkan pemahaman akan jati diri seorang Muslim serta peran strategisnya untuk menyampaikan risalah dakwah. Tak sedikit buku yang menawarkan analisis kritis, mulai terhadap sejarah formasi sosial-ekonomi-politik hingga fenomena kontemporer, yaitu globalisasi dan kapitalisme. Tiga di antaranya mengemukakan cara pandang berbeda dengan melihat Islam bukan sekadar agama spiritual, melainkan sistem nilai yang membebaskan. Selain dari kejahatan dan kezaliman, pembebasannya juga dari pemberhalaan sistem dan struktur dunia yang penuh penindasan dan ketidakadilan.

Kiranya Anda juga dapat mengambil hikmah dari potret masyarakat kekinian yang diangkat oleh sejumlah da'i, intelektual dan aktivis gerakan. Tergugahnya kesadaran kita akan mendorong kontribusi dalam upaya transformasi sosial masyarakat dari jerat kapitalisme.

  • Bagaimana Menyentuh Hati: Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah
    Abbas As-Sisiy

     
    Kita sering mendengar keluhan dari teman-teman aktivis dakwah tentang sasaran dakwah yang tidak “welcome” dan cenderung apriori. Di lain pihak, orang-orang "awam" banyak mengeluhkan para aktivis dakwah (baik dalam lingkungan kampus maupun tempat tinggal) cenderung bersifat mengelompok, tertutup, dan cenderung “menghakimi” ketika melihat mereka berbuat “dosa” tanpa mencoba mencari tahu sebabnya dan kemudian memberikan nasihat serta solusi yang baik dan tepat. Bagaimana mungkin aktivitas dakwah dapat berjalan ketika subjek dan objeknya memiliki pandangan (atau stereotipe?) yang bertolak belakang bahkan mungkin saling berprasangka buruk?

 

  • Model Manusia Muslim: Pesona Abad ke-21
    M. Anis Matta
     
    Untuk menjadi manusia Muslim abad ke-21 -yang secara otomatis telah melalui ‘seleksi alam’- kita perlu merencanakan pengembangan diri sehingga tantangan-tantangan dakwah sekeras dan seberat apapun dapat diatasi. Berbekal pemahaman akan diri dengan berlandaskan pada pemahaman syari’at akan melahirkan kemampuan untuk mengembangkan diri secara optimal. Anis Matta mengambil Qur’an surat Al Hasyr ayat 1 yang didefinisikannya sebagai perintah untuk merencanakan hari esok yang diiringi dengan ketaqwaan sebagai landasan syar’i untuk melakukan pengembangan diri.

 

  • Islam dan Teologi Pembebasan
    Asghar Ali Engineer
     

    Teologi pembebasan hadir untuk mengambil peran dalam membela kelompok yang tertindas. Teologi pembebasan adalah anti kemapanan, baik kemapanan relijius maupun politik. Islam sendiri pada awal perkembangannya banyak dipeluk oleh orang-orang yang bukan golongan elit masyarakat. Muhammad sebagai pembawa risalah juga berasal dari keluarga Quraisy yang, walaupun cukup terpandang, tidak tergolong keluarga kaya dan berstatus sosial tinggi. Pada saat itu Islam menjadi tantangan yang membahayakan para saudagar kaya Mekah, sehingga mereka menolak ajaran Islam. Bukan semata-mata karena mereka menolak risalah tauhid, tetapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap Islam yang akan membawa perubahan sosial, khususnya pada tingkatan kekuasaan, baik politik

    maupun ekonomi.
    Dalam menghadapi tantangan kemiskinan, Engineer mengatakan bahwa jika agama hendak menciptakan kesehatan sosial, dan menghindari dari sekedar pelipur lara dan tempatberkeluh kesah, agama harus mentransformasikan dirinya menjadi alat yang canggih untuk melakukan perubahan sosial. Teologi, meskipun berasal dari teks-skriptural yang diwahyukan dari Tuhan, sebagian bersifat situasional-kontekstual dan normatif-metafisika. Ruhnya yang militan tampak menonjol ketika tetap mengidentifikasikan dirinya dengan kaum tertindas.

 

  • Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik
    Mansour Fakih
     

    “Sebagai golongan intelektual, tugas kita memang bukan sekedar ‘memberi makna’ terhadap realitas sosial globalisasi, menguatnya neoliberalisme saat ini, dan meratapinya. Tugas kita sebagai intelektual adalah ikut menciptakan sejarah dengan membangun gerakan pemikiran dan kesadaran kritis untuk memberi makna masa depan kita sendiri.”Apa hakikat ilmu sosial dan penelitian sosial? Atas kepentingan siapa dan dalam rangka apa sesungguhnya ilmu sosial dan penelitian sosial dilakukan? Pertanyaan ini membawa pada pertanyaan lanjutan: kepada siapa hendaknya pengetahuan sosial dan penelitian sosial diabdikan?
    Secara lugas dan dengan bahasa yang mudah dipahami, Fakih merefleksikan pelbagai

    persoalan sosial pada buku ini dalam tiga bagian besar (yang terdiri dari beberapa bab). Bagian pertama Seputar Teori Perubahan Sosial; bagian kedua, Pemikiran Tokoh; bagian ketiga, Globalisasi dan Dampaknya.

  • Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal: Dari Wacana Menuju Gerakan
    Eko Prasetyo

     

    Umat Islam, terutama kelompok miskin tertindas, di era globalisasi kapitalisme akan menghadapi gelombang kemiskinan struktural yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Golongan Muslim miskin membutuhkan teologi, paradigma dan analisis sosial yang memihak pada mereka—itulah teologi bagi kaum tertindas, teologi yang membebaskan mereka dari ketertindasan dan eksploitasi global. Bagi golongan miskin dan marjinal, kehadiran globalisasi lebih membawa ancaman ketimbang berkah.
    Sebuah teologi yang memberi ruang bagi pembelaan kaum tertindas sangat diperlukan dengan membentuk gerakan sosial (social movements). Tantangan terbesar yang dihadapi adalah dukungan masa atas legitimasi teologis ini. Islam Kiri dalam kenyataannya tergolong

    kecil dari segi jumlah dan cenderung ada jarak dengan masyarakat. Tantangan lain adalah kuatnya paradigma dominan penganut globalisasi neoliberalisme yang telah berhasil menundukkan pemerintah dan negara, melalui infiltrasi gagasan pasar bebas atas setiap kebijakan negara.